Pernah suatu ketika adik-adik angkatan (yang karena kerewelanku kuliah, secara harfiah menjadi, teman seangkatanku) menemukan blog lama bapak dosen jaman beliau kuliah. Waktu itu aku ikut menertawakan dosenku atas blog yang beliau tulis sewaktu beliau masih mahasiswa. Entah darimana si bapak tahu bahwa kami tahu beliau menulis blog, akhirnya si bapak menghapus blognya. Well, karma is a bitch. Mungkin, karena kualat menertawakan si bapak dosen, aku mendadak teringat dan rindu dengan blog yang aku tulis jaman SMP, yang sudah lama kuhapus. Entah apa isinya, kita semua akan sepakat bahwa apapun yang anak ingusan umur 12 tahun tulis di blognya tidak akan lebih baik dari tulisan seorang mahasiswa yang berjuang di perantauan.
Singkat cerita, sebenarnya waktu itu aku jadi bisa menemukan sisi lain dari dosen kesayanganku itu (sengaja ditulis miring), yang waktu itu terlihat punya sepasang tanduk di mata mahasiswa rewel sepertiku. Tetapi ketika aku membaca tulisan polosnya di blog, sosok bapak dosen dengan kemeja necisnya berganti dengan seorang mahasiswa dengan kaos seadanya (yang kemungkinan besar tetap terlihat bagus di badan bapak dosen sih).
Oh. Ternyata si bapak dosen juga manusia? Ternyata si bapak dosen waktu lahir dan masih berupa bayi merah baru keluar dari rahim ibunya tidak berpakaian kemeja? Kalian tidak akan menganggapku gila kalau tahu betapa bagusnya semua kemeja yang ada di dunia ini ketika sudah menempel di badan si bapak. So, ternyata terkadang kita lupa bahwa guru atau dosen pernah menjadi murid dan mahasiswa seperti kita, dan ketika keluar dari kampus mereka menjadi warga masyarakat yang sama seperti kita dengan peran sosialnya masing-masing. Mereka pernah struggle dan sedang struggle di jalan mereka masing-masing.
Aku jadi membayangkan, kalau teman-teman (dan si bapak dosen kesayangan, sengaja ditulis miring) membaca blog lama yang kutulis di jaman aku masih menjadi penggemar garis keras the GazettE, apa ya yang akan mereka pikirkan tentang aku? Apakah aku terlihat seperti jurnalis yang lahir untuk menulis, karena sudah menulis blog sejak dini? Apakah aku terlihat seperti ahli IT karena sudah belajar bahasa HTML sejak umur 12 tahun untuk mempercantik tampilan blog? Atau mereka hanya melihat aku yang sama, yang tetap malas-malasan, hobi mengeluh tentang dunia, dan punya sindrom ratu drama, tapi versi umur 12 tahun? Mungkin kah aku tidak berubah dari 14 tahun yang lalu? Mungkin kah yang berubah hanya lah medianya? Apakah kontenku di sosial media sekarang sama toxicnya dengan tulisanku di blog 14 tahun yang lalu?
Aku tumbuh dengan penuh harapan bahwa aku akan berkembang. Tapi mungkin waktu itu doaku tidak lengkap, sehingga bukan jiwa dan akalku yang saat ini berkembang, tapi hanya ego dan juga badanku :). Ya, tulisan yang penuh dengan ego dan narsistik ini juga membuktikan aku masih gadis emo yang sama dengan 14 tahun yang lalu, yang tidak berkembang. Jadi, aku pun tahu aku berkembang atau tidak dari tulisan-tulisanku, termasuk tulisan ini. Tetapi kontradiksinya adalah, tulisan blog jaman SMP milikku sudah hilang. Jadi bagaimana caranya aku bisa membandingkan tulisanku yang dulu dengan sekarang untuk menilai apakah sekarang aku berkembang atau tidak? (Dengan hormat, jangan ada saran untuk mendengar pendapat orang lain untuk tahu aku berkembang atau tidak, karena jawabannya sudah jelas sih :))
Welcome.
Selamat datang di catatan harian si Kelinci