Di tengah kebingungan karena ingin kembali aktif menulis di sini tetapi sudah waktunya bagi aku untuk menulis tesis, aku berpikir: Why not do both? Hitung-hitung menuangkan kepuitisan dalam tulisanku ke dalam blog ini, daripada ku tulis di tesis kan ya. Jangan sampai nanti aku nulis Attack on Titan di tesis. Cuakz.
Kalau aku diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, aku tidak akan mengubah apapun dalam hidupku. Tapi mungkin aku akan menampol diriku di masa lalu dengan keras. "Belajar woy! Jangan nonton anime mulu heh! Dikasih tugas bikin artikel jadi enggak punya tema lain selain Attack on Titan kan jadinya! Sat!" Selain kualitas artikel yang terkorbankan karena kemalasanku dalam belajar, banyak ilmu-ilmu yang harusnya bisa membantu tesisku tapi saat ini tidak aku kuasai. Sebut saja: Statistik.
Menyandang gelar Sarjana Humaniora mengisyaratkan bahwa topik-topik skripsiku tidak jauh jauh dari kualitatif, paling banter kepustakaan. Seingatku, dari temen-teman sejurusanku dulu, hanya ada satu anak yang skripsinya menggunakan SPSS, alias statistik super duper dasar yang digunakan oleh temanku itu hanya untuk mengolah data narasumber.
Sebelum masuk program Magister yang ini, tentu ada program pra yang diharapkan membantu kami, terutama yang lulusan non-linear, untuk lebih dapat memahami perkuliahan. Tapi mohon maaf, di antara empat kelas paralel yang ada, si bocah begajulan ini dapat kelas Statistik di hari Senin jam 07.00 pagi, yang menyebabkan bocah sontoloyo ini hanya fokus selama 45 menit pertama kuliah dan sisanya dipakai tidur! Apalagi waktu itu kelas dilakukan secara daring. Mantap!
Ketiduran tidak bisa menghentikan aku untuk aktif di kelas sih. Aku selalu bertanya di kelas tentang hal-hal yang tidak aku pahami (terutama di bagian-bagian yang agak ke-skip karena ketiduran di kelas). Bagai tusuk ketemu sunduk, dosenku yang terlalu jago di statistik, sepertinya agak kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang benar-benar nol putung tentang statistik. Satu pertanyaan yang paling aku ingat adalah pertanyaan mengenai hipotesis, tepatnya H0. Jadi katanya kalau H0 itu terbukti, artinya hipotesis itu signifikan secara statistik (Ini kalau salah, tolong dijadikan sebagai bukti betapa nyenyaknya tidurku waktu itu, Thanks).
Aku exited. Wah! Akhirnya ada istilah yang aku pernah dengar, bahkan menjadi judul skripsiku: Siginikansi Puisi X karya Y. Signifikansi. Signifikan. Tinggal ketika istilah signifikan itu masuk ke statistik, aku tidak tahu nih penggunaannya bagaimana. Apa bedanya dengan signifikan yang ku kenal selama ini? Ketika dipersilahkan bertanya, aku raise hand. "Ibu, maksudnya signifikan secara statistik itu bagaimana?" Ibu dosen sedikit terdiam. Jawaban berikutnya sangat mencengankan.
"Signifikan secara statistik itu.... ya signifikan secara statistik."
Tidak. Ini bukan salah bu dosen. Tidak pernah salah bu dosen. Ini semua murni salahku yang hobi ketiduran di kelas! Statistik paling dasar aja aku skip! Blog!
Apakah ceritaku dengan statistik berhenti sampai disitu? Tidak. Puncaknya, pernah selepas sebuah ujian, iseng-iseng aku memperlihatkan jawaban ujianku kepada teman ibuku yang ahli statistik. Tahu responnya apa?
"Dek, ini di tempatmu ada remidi engggak?'
Hahahahahahahahahaha. Ya Allah. Nangis banget enggak tuh. Aku tidak dikasih tahu detail jawaban mana yang salah. Kemungkinan besarnya sih semua salah! Hahahahahaha
Sialnya, konsentrasiku ternyata banyak menggunakan penelitian kuantitatif untuk tesisnya. Judulnya seragam semua. Pengaruh X Terhadap Y dengan Mediasi Z: Studi Kasus Perusahaan A. Paling banter variasinya di mediasi yang terkadang diganti dengan moderasi. Otomatis nyawa tesis-tesis tersebut ada di: Statistik.
Satu semester kemarin, kami dipersiapkan untuk menulis tesis dalam kelas Research Method In Concentration. Minggu pertama kami diminta untuk mencari jurnal artikel acuan utama untuk topik tesis kami. Kebanyakan jurnal artikel topik yang aku mau merupakan hasil dari penelitian kuantitatif. Bertemu lah aku dengan mantan yang ingin kuhindari: Statistik.
Bukannya aku tidak ingin belajar hal yang baru dan menjadi orang dewasa yang bertanggungjawab kepada kewajiban belajarnya, tetapi ada mantan, sebiji lagi, yang selalu memaksa aku untuk menulis tesis dengan topik dan jenis penelitian yang aku bisa: Skripsi.
Sekarang, kalau kalian minta aku membaca hasil statistik sederhana, aku sudah bisa. Terima kasih kepada satu mata kuliah di semester satu yang melatih aku untuk membaca hasil statistik. Shout out juga kepada satu teman sekelompokku yang tidak pernah lelah untuk mengajariku (dan teman-teman lainnya) membaca hasil statistik (Hi Tita! Yes, I'm talking about you! Love you babe!). Tetapi, ketidaksempurnaan skripsiku seolah mengingatkan aku untuk selalu kembali kepada track, kepada topik dan jenis penelitian yang menjadi keahlianku. Belajar hal yang benar-benar baru? Boleh! Untuk ditulis di tesis dan dipertanggungjawabkan di sidang? Big no.
Tentunya nanti aku akan tetap menggunakan statistik dasar untuk mengolah data narasumber. Aku tidak bisa lari sepenuhnya dari statistik. Tetapi untuk jenis penelitian, aku tetap akan menggunakan penelitian kualitatif dengan teknik in-depth interview yang sudah kupraktekan bertahun-tahun, entah dengan mendengarkan siniar hingga memproduksi siniar sendiri, atau wawancara untuk majalah. Nah, dengan pengalaman-pengalaman yang aku punya, aku tinggal mengasah kemampuan wawancaraku one step ahead untuk penelitianku layak disebut sebagai tesis.
Harapannya, dengan tesisiku ini, kemampuan wawancaraku akan cukup kencang untuk aku dapat lari dari statistik.
Lari! Ada Statistik!
Welcome.
Selamat datang di catatan harian si Kelinci