• Home
  • About
    • The Blog
    • The Writer
  • <>
Dijalankan oleh Mona Nurmaningtyas. Diberdayakan oleh Blogger.
instagram Email

 21.30

Hari kemenangan sebentar lagi tiba. Apa ya persiapan yang sudah aku lakukan? Rasanya ramadhan tahun ini berlalu begitu saja. Semoga ada pelajaran yang aku ambil walau sedikit. Jadi, tidak hanya baju atau sepatu baru yang aku persiapkan. Mungkin aku akan membantu ibuku mempersiapkan parsel bagi orang-orang terdekatnya. 

Mungkin bagi sebagian orang, memberikan parsel adalah rutinitas lebaran yang sudah menjadi agenda tahunan. Tapi bagi ibuku, sepertinya tahun ini adalah tahun pertama beliau membagikan parsel bagi teman-teman kantornya. Setahun lagi ibuku akan pensiun, dan baru tahun ini dia merasa berterima kasih kepada rekan kerjanya. 

Diawali dari awal puasa, ketika kerjaan kantor ibuku meningkat dan ibuku bercerita bahwa ia dibantu oleh teman-temannya. "Mak, kayaknya kita perlu ngasih parsel deh ke orang-orang kantor," jawabku mendengar ceritanya. "Ah. Ngapain. Mereka enggak perlu. Si ini, si itu, si anu saja yang diberi. Lainnya tidak usah. Sudah mampu." Ibuku menyebutkan beberapa pegawai yang membantu administrasi. "Lah. Bukan masalah mampu enggak mampunya. Ini masalah mama memperlihatkan rasa terima kasih mama ke mereka."

Aku mengenal ibuku dan aku tahu kalau ibuku punya standar penilaian tersendiri ke orang-orang. Ya, seyogyanya orang Endonesia sih. Kasarannya, yang kaya ya kaya, yang miskin yang miskin. Sehingga memang jarang sekali ibuku memberikan kado, atau parsel hari raya ke teman-temannya yang dianggapnya mampu. Tetapi begitu ada pegawai yang lebih membantu temannnya yang lain, ia pasti mengeluh, "kenapa ya mbak A lebih mau membantu kerjaan bu B?"

Ya,,, Parselnya bu B enak sih mak.. Aku juga nyicip. Dikit. Hehehe

21.40

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Di tengah kebingungan karena ingin kembali aktif menulis di sini tetapi sudah waktunya bagi aku untuk menulis tesis, aku berpikir: Why not do both? Hitung-hitung menuangkan kepuitisan dalam tulisanku ke dalam blog ini, daripada ku tulis di tesis kan ya. Jangan sampai nanti aku nulis Attack on Titan di tesis. Cuakz.

Kalau aku diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, aku tidak akan mengubah apapun dalam hidupku. Tapi mungkin aku akan menampol diriku di masa lalu dengan keras. "Belajar woy! Jangan nonton anime mulu heh! Dikasih tugas bikin artikel jadi enggak punya tema lain selain Attack on Titan kan jadinya! Sat!" Selain kualitas artikel yang terkorbankan karena kemalasanku dalam belajar, banyak ilmu-ilmu yang harusnya bisa membantu tesisku tapi saat ini tidak aku kuasai. Sebut saja: Statistik.

Menyandang gelar Sarjana Humaniora mengisyaratkan bahwa topik-topik skripsiku tidak jauh jauh dari kualitatif, paling banter kepustakaan. Seingatku, dari temen-teman sejurusanku dulu, hanya ada satu anak yang skripsinya menggunakan SPSS, alias statistik super duper dasar yang digunakan oleh temanku itu hanya untuk mengolah data narasumber.

Sebelum masuk program Magister yang ini, tentu ada program pra yang diharapkan membantu kami, terutama yang lulusan non-linear, untuk lebih dapat memahami perkuliahan. Tapi mohon maaf, di antara empat kelas paralel yang ada, si bocah begajulan ini dapat kelas Statistik di hari Senin jam 07.00 pagi, yang menyebabkan bocah sontoloyo ini hanya fokus selama 45 menit pertama kuliah dan sisanya dipakai tidur! Apalagi waktu itu kelas dilakukan secara daring. Mantap!

Ketiduran tidak bisa menghentikan aku untuk aktif di kelas sih. Aku selalu bertanya di kelas tentang hal-hal yang tidak aku pahami (terutama di bagian-bagian yang agak ke-skip karena ketiduran di kelas). Bagai tusuk ketemu sunduk, dosenku yang terlalu jago di statistik, sepertinya agak kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang benar-benar nol putung tentang statistik. Satu pertanyaan yang paling aku ingat adalah pertanyaan mengenai hipotesis, tepatnya H0. Jadi katanya kalau H0 itu terbukti, artinya hipotesis itu signifikan secara statistik (Ini kalau salah, tolong dijadikan sebagai bukti betapa nyenyaknya tidurku waktu itu, Thanks).

Aku exited. Wah! Akhirnya ada istilah yang aku pernah dengar, bahkan menjadi judul skripsiku: Siginikansi Puisi X karya Y. Signifikansi. Signifikan. Tinggal ketika istilah signifikan itu masuk ke  statistik, aku tidak tahu nih penggunaannya bagaimana. Apa bedanya dengan signifikan yang ku kenal selama ini? Ketika dipersilahkan bertanya, aku raise hand. "Ibu, maksudnya signifikan secara statistik itu bagaimana?" Ibu dosen sedikit terdiam. Jawaban berikutnya sangat mencengankan. 

"Signifikan secara statistik itu.... ya signifikan secara statistik." 

Tidak. Ini bukan salah bu dosen. Tidak pernah salah bu dosen. Ini semua murni salahku yang hobi ketiduran di kelas! Statistik paling dasar aja aku skip! Blog!

Apakah ceritaku dengan statistik berhenti sampai disitu? Tidak. Puncaknya, pernah selepas sebuah ujian, iseng-iseng aku memperlihatkan jawaban ujianku kepada teman ibuku yang ahli statistik. Tahu responnya apa?

"Dek, ini di tempatmu ada remidi engggak?'

Hahahahahahahahahaha. Ya Allah. Nangis banget enggak tuh. Aku tidak dikasih tahu detail jawaban mana yang salah. Kemungkinan besarnya sih semua salah! Hahahahahaha

Sialnya, konsentrasiku ternyata banyak menggunakan penelitian kuantitatif untuk tesisnya. Judulnya seragam semua. Pengaruh X Terhadap Y dengan Mediasi Z: Studi Kasus Perusahaan A. Paling banter variasinya di mediasi yang terkadang diganti dengan moderasi. Otomatis nyawa tesis-tesis tersebut ada di: Statistik.

Satu semester kemarin, kami dipersiapkan untuk menulis tesis dalam kelas Research Method In Concentration. Minggu pertama kami diminta untuk mencari jurnal artikel acuan utama untuk topik tesis kami. Kebanyakan jurnal artikel topik yang aku mau merupakan hasil dari penelitian kuantitatif. Bertemu lah aku dengan mantan yang ingin kuhindari: Statistik.

Bukannya aku tidak ingin belajar hal yang baru dan menjadi orang dewasa yang bertanggungjawab kepada kewajiban belajarnya, tetapi ada mantan, sebiji lagi, yang selalu memaksa aku untuk menulis tesis dengan topik dan jenis penelitian yang aku bisa: Skripsi.

Sekarang, kalau kalian minta aku membaca hasil statistik sederhana, aku sudah bisa. Terima kasih kepada satu mata kuliah di semester satu yang melatih aku untuk membaca hasil statistik. Shout out juga kepada satu teman sekelompokku yang tidak pernah lelah untuk mengajariku (dan teman-teman lainnya) membaca hasil statistik (Hi Tita! Yes, I'm talking about you! Love you babe!). Tetapi, ketidaksempurnaan skripsiku seolah mengingatkan aku untuk selalu kembali kepada track, kepada topik dan jenis penelitian yang menjadi keahlianku. Belajar hal yang benar-benar baru? Boleh! Untuk ditulis di tesis dan dipertanggungjawabkan di sidang? Big no.

Tentunya nanti aku akan tetap menggunakan statistik dasar untuk mengolah data narasumber. Aku tidak bisa lari sepenuhnya dari statistik. Tetapi untuk jenis penelitian, aku tetap akan menggunakan penelitian kualitatif dengan teknik in-depth interview yang sudah kupraktekan bertahun-tahun, entah dengan mendengarkan siniar hingga memproduksi siniar sendiri, atau wawancara untuk majalah. Nah, dengan pengalaman-pengalaman yang aku punya, aku tinggal mengasah kemampuan wawancaraku one step ahead untuk penelitianku layak disebut sebagai tesis.

Harapannya, dengan tesisiku ini, kemampuan wawancaraku akan cukup kencang untuk aku dapat lari dari statistik.

Lari! Ada Statistik!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Pemberitahuan itu tiba-tiba. Teman ibuku mantu di Banjarmasin. Awalnya hanya mengundang keluarga dekat, tetapi ibuku dan temannya satu lagi yang merupakan teman satu geng Trio Bebek dari si yang punya hajat, berinovasi meminta undangan untuk tiga orang. Ya, ekstra satu untuk aku. 

Kesemrawutan ibukota pendidikan endonesa membuat aku ingin rehat sejenak dan tidak bisa menolak tawaran emas ini. Aku harus escape dari kota penuh pressure, gemblengan, dan cacian berbalut mendidik ini untuk sementara waktu. 

 
 
3 Juni 2022


Berangkat lah aku dan ibuku dari Jogja. Teman ibuku yang satunya, Tante, berangkat dari Jakarta. Ini akan jadi pengalaman pertamaku naik pesawat setelah pandemi. Sembari menikmati bandara baru YIA, tidak lepas dari benakku, bagaimana ya kalau pesawatnya kenapa-kenapa, aku dan ibuku tidak bisa kembali, kucing-kucingku bagaimana nasibnya? Maklum, sudah tiga tahun lebih tidak naik pesawat. 


 
 
Puji Pemilik Alam, cuaca hari itu cerah sehingga penerbangan tidak ada hambatan. Seumur hidup, itu lah kali pertama aku menginjakkan kaki di bumi Kalimantan. Tidak ada rasa aneh dan beda dengan Jawa. Kalau ke Bali atau Lombok mungkin masih ada bedanya, ya. Perjalanan kali ini, serasa pulang ke rumah.

4 Juni 2022
 
Kami diajak oleh teman ibuku yang lain yang menetap di Banjarmasin untuk menikmati sarapan pagi di pasar apung. Perjalanan setengah jam dengan mobil ternyata bukan satu-satunya perjalanan yang harus kami tempuh. Kami harus masih menaiki kapal selama empat puluh lima menit untuk mencapai tujuan kami.

 
 

Cahaya matahari yang masuk ke kapal begitu hangat serasa memeluk. Mungkin pada saat itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa saat aku merasa damai dan hening di tengah gemuruh suara kapal dan obrolan ibuku dan teman-temannya.

Para sehabat sejati yang keluyuran meninggalkan sahabatnya persiapan mantu. Hehehe
 
Bangun pagi bukan lah kegiatanku sehari-hari. Sehingga bisa dipastikan sepanjang perjalanan kegiatanku adalah berlayar ke alam mimpi. Apalagi aku peka dengan white noise, sehingga bunyi kototkotokkotokkotokkotokkotokkotokkotok kapal malah menina-bobo-kan aku si bayi raksasa.

Bunyi kapal yang tiba-tiba hilang dan kapal yang tidak lagi bergerak malah membangunkanku. Setelah kami sampai, ternyata kami tidak turun dari kapal. Pedagang-pegadang yang berjualan sarapan dan jajanan pagi ini lah yang menghampiri kapal kami dengan kapal dayungnya. Ini pengalaman yang tidak mungkin aku dapatkan di Jogja.


Jajanan yang mereka tawarkan adalah jajanan yang tidak bisa aku temui di Jogja. Ada satu sih yang mirip dengan jajanan di Jogja, kue bingka, tapi di Jogja pun sudah langka. Kue Bingka asli Kalimantan juga dibaluri dengan sejenis ampas santan yang gurih, sedang yang di Jogja dibiarkan kering begitu saja. Ada pula roti sejenis cakwe tapi berisi kacang-kacangan, ini favortitku, meski aku tidak tau apa namanya.

Kalau yang ini favorit ibuku. Buat lidahku masih aneh. Hehehe

Pengalaman ini harus berakhir karena kami harus cepat-cepat bersiap-siap menghadiri pernikahan, acara utama kami di Banjarmasin. 

5 Juni 2022

Setelah berkutat dengan belanja anggrek dan langsung mengurus ke karantina, kami mempersiapkan diri untuk pulang. Pulang ke Jogja setelah pergi jauh, ternyata jiwaku tidak pulih sepenuhnya, healingku gagal. Banyak hal yang harus ku pikirkan, banyak tanggung jawab yang harus ku pikul, banyak cacian yang ku ingat kembali, besok pun ujian akhir.

Bukan, bukan pergi jauh yang akan membuat jiwamu pulih. Bukan persoalan mengenai dimana, kemana, siapa, kapan, atau pun apa, tetapi hanya dirimu yang bisa menjadi penyembuh untuk lukamu.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar





Sebelum aku bercerita, izinkan aku mengenang kembali masa-masa kuliahku di kampus lama. Aku tidak pernah ambisius dalam perkuliahan, tapi aku lumayan ambisius dalam kegiatan ekstrakulikuler. Tapi sialnya, karena aku sudah keburu menjadi pemalas sejak detik pertama aku kuliah, aku gagal berkoneksi sehingga aku jarang bisa nyemplung ke kegiatan mana pun di kampus. Kecuali ke satu kegiatan teater, yang mungkin akan ku ceritakan kapan-kapan.

Ketika aku berhasil menembus kampus magister yang lumayan beken ceileh di Jogja, aku putuskan, aku akan menikmati masa mudaku yang tinggal seumur jagung tapi ukuran extra large ini. Dengan apa? Yaps, dengan mengikuti kegiatan ekstrakulikulernya. Apalagi kampus baruku ini mewadahi dan sangat mendukung kegiatan ekstrakulikuler mahasiswanya, walaupun sudah tingkat magister.

Sudah satu semester berlalu, ketika berbalik ke belakang, ternyata aku cukup gila ya.. Aku bukan menyombongkan aku sangat sibuk sehingga dengan santai bisa berkata begini. Tapi aku sudah benar benar meninggalkan Mona yang dahulu di belakang. Di satu titik, ketika aku berhenti sejenak, ada pertanyaan aneh, "siapa aku? kenapa aku jadi begini?". Terkadang dalam hal negatif, tapi seringnya konteksnya positif sih. Ternyata aku bisa ya sampai di titik ini. Sehingga mau tidak mau aku terus maju. Takut kalau ternyata posisiku sekarang ini cuma aji mumpung.

Terkadang aku lupa kalau aku adalah seorang bocah prik yang baru mentas dari bully-an semesta (jurusan sih, aku lebay aja bilang semesta). Aku harus kembali beradaptasi dengan orang-orang yang bukan hanya normal, tapi hebat di bidangnya. Aku yang terbiasa rebel, harus kalem dan manut, iya iya aja. Ketika berantem pun, aku harus legowo nerima kalau kesalahan lebih banyak ada di pihakku, karena sekali lagi, bocah prik-nya adalah aku. Aku tidak bisa lagi dalam survival mode yang menyerang sana dan sini karena semuanya adalah bestie. Awowkwowkwkwk.

Kembali tentang life-update, aku baru saja UTS, banyak bacotnya. Aku curiga besok gelarku, M.B.A, kepanjangannya adalah Master of Bacot, bukan yang seharusnya. Tapi setidaknya aku tidak lagi menulis essay tentang Attack on Titan yang dihubungkan dengan ekonomi Korea Selatan, prik parah! Namanya juga bocah prik! Jadi ya, kemajuan sih semester ini aku tidak (atau belum) membahas tentang Anime atau K-Pop dan orok-oroknya.


Kemudian sehabis UTS ini, masih banyak tanggung jawab yang harus aku pikul. Berawal dari fomo dan adanya kebutuhan untuk membuktikan kepada prodi lama bahwa aku mampu, sepertinya kegiatanku kemarin kebablasan yang berakibat semester ini aku diberi tanggung jawab yang cukup banyak untuk ukuran seorang Mona yang perfeksionis tapi pemalas dan manja. Menulis di sini adalah salah satu coping mechanism-ku dalam menghadapi tanggung jawab tersebut :) Mungkin aku akan banyak bacot (lagi) menceritakan kegiatanku. Aku akan mengasah kemampuan menulisku di sini, supaya aku tidak lagi menulis Anime dan K-Pop untuk paper selanjutnya juga :)

Intinya, jangan bosan-bosan dengan bacotanku. Trims.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Pernah kah kalian memilih shade lipstick berdasarkan keunyuan namanya? Ya. Aku pernah, ketika membeli Garden Glass Tint by House of Hur milik Sunnydahye. Sewaktu pre-order liptint ini dibuka pada bulan Juli lalu, aku memilih warna Peony di antara enam shade yang ditawarkan. Setelah produk ini muncul, aku baru tahu kalau pelafalan Peony itu [pi-o-ni], lucu banget kan? Selama ini aku nyebutnya pe-o-ny, atau malah kadang po-e-ny karena salah baca :p

Selain karena nama, kak Sunny dalam videonya pun bilang, "kalau kalian tidak ada budget untuk membeli banyak liptint ini, aku saranin kalian pilih shade Peony." Halooowww sobath misqueen nusantaraa mana suaranyaaaaaaa? Jadilah aku memilih, Peony.

Shade #02 Peony
 
Previous Product
 
Sebelum ini aku sudah membeli 'kakak' dari liptint ini, yaitu Garden Multi Sleek Pot. Perasaanku terhadap produk multifungsi tersebut sangat lah nano-nano. Aku suka warnanya, yes dia seperti yang diklaim oleh kak Sunny, semua shade cocok untuk semua warna kulit Indonesia. Tapi formulanya? Mungkin karena terlalu ngotot ingin menciptakan produk multifungsi ala-ala lampu ajaib aladin, formula Garden Multi Sleek Pot aneh buat aku. 
 
Kak Sunny ingin menciptakan formula produk yang berfungsi tidak hanya sebagai lip product, tapi untuk cheek dan eyes, ditambah tidak hanya berfungsi sebagai make-up, tapi sekaligus menjadi produk lipcare / skincare? Hmm... A little bit too much for a single product to handle, isn't it? Sehingga jatuhnya terkadang Garden Multi Sleek Pot ketika digunakan di bibir agak sheer tapi di waktu yang sama medok untuk jadi blush on. Solusinya, aku selalu pakai Garden Multi Sleek Pot sebagai blush dalam, dengan porsi pakai yang sangat hati-hati, dan menggunakan di bibir sebagai warna dasar untuk ombre dengan liptint lain, still pretty!

 
The Pretty Box

The Expectation

Bagaimana dengan Garden Glass Tint ini? Aku ulang lagi, it was beyond my expectation! Kenapa? Karena dibanding 'kakak'nya yang warna-warnanya aduhai sekali, range pilihan warna Garden Glass Tint jauh lebih pendek. Mereka sama-sama punya enam range warna, tetapi variannya sekarang terkesan lebih monoton.


View this post on Instagram

A post shared by Hou

Garden Mutli Sleek Pot's Shade

View this post on Instagram

A post shared by Ho

  Garden Glass Tint's Shade

Wajar aja sih, karena Garden Glass Tint itu adalah liptint dan varian liptint biasanya memang tidak seluas produk lipstick lainnya. Ketakutan keduaku muncul, produknya nampaknya sih sheer, itu yang ada di bayanganku saat melihat variasi warna di atas. Lihat saja perbandingannya, jauh kan?

Kemudian, aku terlanjur pesan yang Peony (sekali lagi, hanya karena namanya lucu). Setelah pesan aku baru berpikir ulang, ini kan liptint, kok berani banget aku pesan warna begini? Mati lah aku. Warna Peony adalah warna liptint peachy-pink yang sudah pasti sheer alias tembus pandang di bibir jamet aku! Warna liptint pink biasa aja di bibirku sheer apalagi peachy-pink yang nyaris nude! Doaku kenceng banget, "please, jangan sheer, please," selama menunggu liptint ini datang.

 And Finally, The Review

Dan doaku didengar! Untuk liptint, formula Garden Glass Tint ini ciamik banget! Bibir jametku tertutupi dengan sempurna. Sempurna, kawan. Kapan lagi ada liptint yang bisa menutupi bibir jamet? Kapaann?

Untuk finishingnya, sesuai namanya, dia glassy-glassy kiyowo banget. Biasanya liptint itu ada dua finish, entah dia jadi kering banget sampai bibir nglupas atau basah, becek kemana-mana , dan bikin berat bibir, separo lipgloss gitu. Liptint ini, cenderung basah, sesuai namanya, tetapi tidak kemana-mana dan super ringan! Bahkan, menurutku liptint ini lebih ringan daripada beberapa lipbalm yang pernah aku pakai. Dan point yang paling penting di era pandemi ini, dia mask-proof.

Warnanya? Girl. Let me introduce you to: my favorite lip product color of 2021 or even forever; Garden Glass Tint Shade #02 Peony! Please welcome her! Akhirnya ya siiiss bertahun-tahun aku cari warna pink yang bakal masuk ke kulit jamet aku, hari ini, 14 Agustus 2021, I found her!

Warna pink lipstick Indonesia itu, buat jamet seperti aku terutama, cuma ada dua: entah dia pink muda neon atau pink tua menyala (rada neon juga) koleksi ibu-ibu arisan. Betul? Betul. No offense, karena di bibir jamet, sebanyak apapun shade pink yang suatu merek atau line punya, jatuhnya hanya di kedua pilihan itu :"). Wajar, karena warna pink itu dasarnya cool tone sedangkan jamet kebanyakan punya warna kulit warm tone, enggak nyambung jadinya.

Kelebihan lainnya adalah aplikatornya didesain khusus untuk mengambil produk lebih banyak, kata kak Sunny. Menurutku enggak terlalu masalah sih ketika kita harus ngucek-ngucek aplikator yang biasa untuk mendapat produk lebih banyak. Tapi bentuk aplikator yang dimiliki Garden Glass Tint jadi lebih estetik sih menurutku. Berbicara tentang estetik, packagingnya pun estetik dan anti-mainstream banget. Bisa-bisanya ya kepikiran milih warna kuning gemes buat packagingnya? So pretty!

Kekurangannya nih ya, ada di harga. Berada pada rentang harga Rp.110.000,-, Garden Glass Tint memiliki banyak pesaing yang memiliki harga yang jaaaauuuh lebih murah. Kamu bisa memilih Emina Glossy Stain untuk liptint basah-basah manja, cuma memang liptint Emina lebih kemana-mana dan enggak terlalu menutupi bibir jamet, lebih menyatu aja dengan bibir layaknya liptint umum sih lebih tepatnya. Kemasannya pun kecil dan ringan. Garden Glass Tint dari House of Hur lebih panjang dan berat, terasa lebih banyak isinya. Jadi kalau kamu pelajar atau mahasiswa yang masih mengandalkan uang saku dan bukan fans Sunnydahye, mending beli Emina sih.

Kekurangan kedua, produk House of Hur untuk sementara hanya tersedia di Sociolla. They're big brand, good thing to have your stuff there to be sell. Tapi marketnya jadi terbatas. Kamu tidak akan bisa menemukan produk ini di toko kosmetik terdekat, apalagi di Indoapril sebelah rumah.

Kekurangan minornya, dia tidak tahan untuk dipakai makanan berminyak. Kalau untuk minum sih, masih tahan sepertinya. Padahal, liptint itu harusnya lebih realible dibanding lipmatte atau lipstik konvensional soal urusan ketahanan. Terkikis dengan konsep Glass Tint, maybe?

Swatch

color-edited-free swatch
 
Seperti yang kalian bisa lihat di atas, warna Peony yang diswatch pada instagram official House of Hur terlihat sedikit nude dibanding beberapa shade lainnya. Padahal warna aslinya lebih peachy-pink menuju ke merah. Setelah aku lihat-lihat lagi, ternyata finishnya lumayan menyatu dengan bibir, tapi sekali lagi, tidak tahan minyak.
 


So buat kamu yang suka liptint estetik, atau mencari liptint yang basah-basah manja tapi anti-mainstream, dan kamu punya cuan lebih, liptint ini bakal cocok banget buat kamu :)


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Hai, entry ini ditulis oleh aku yang sudah berumur 27 tahun, 28 kalau umur west japan. (baru tau istilah ini dari olimpiade 2020. lol) Kalau menurut milenial Endonesa nih, aku sudah kadaluarsa. Tapi kan aku manusia, bukan biskuit lebaran. Mohon maaf, sekedar mengingatkan. Hehehe. 

Tapi memang sih, bertambah umur itu suatu hal yang sensitif. Aku baru akan mengetik 'terutama untuk perempuan' tapi itu terlalu mysoginis tapi aku sepertinya terus mengamini kemysoginisan dunia, jadi ya tidak jadi aku ketik. Ehm. Masih ingat betul dua tahun lalu, seminggu setelah ulang tahunku yang ke-duapuluh lima, dosenku berulang tahun, entah yang keberapa, karena beliau tidak pernah spill umur, tahun lahir, atau sekedar shio, padahal orang Korea lumayan gandrung sama shio dibanding horoskop. Saat berpapasan di jalan dengan beliau aku meneriakkan "Saengil Chukkaeyo, Gyosu-nim" atau "Selamat Ulang Tahun, bu Dosen." Tidak ada yang salah, dalam bahasa Indonesia. Tapi dalam bahasa Korea, tingkat kesopanannya sedikit off. Kalau untuk orang yang lebih tua, 'ulang tahun' itu menggunakan 'saengshin' bukan 'saengil' dan ucapan yang benar adalah "Saengshin Chukkadeurimnida". Dalam hati, ibu Dosen pasti mengumpati aku. Ini anak sudah tingkat akhir, bahkan tingkat uzur, tapi memberi ucapan ke dosen "saengil chukkaeyo"? Hmm tidak salah Terjemahan tidak pernah lulus! 

Sedih sih tapi mari kita jangan gagal fokus.

Alasanku memberi ucapan "Saengil Chukkaeyo" alih-alih "Saengshin Chukkadeurimnida" adalah karena tahun itu adalah ulang tahunku yang keduapuluh lima dan aku merasa tua sekali. Jadi, ketika ada seorang perempuan berulang tahun, aku jadi tidak tega untuk mengingatkan bahwa dia cukup tua untuk diberi ucapan "Saengshin Chukkadeurimnida" because I know how it feels and it feels suck. (Tuh kan! Aku mengamini ucapan mysoginis bahwa umur itu sensitif untuk perempuan!)

Anyway, tahun ini, ada satu hal yang aku perhatikan di hari ulang tahunku. Ada pengurangan yang siginifikan dari jumlah orang yang memberiku ucapan, yang artinya, great! Semua sudah pasti kubalas, tidak seperti tahun lalu atau pada yang terjadi pada ucapan selamat atas keluarnya aku dari neraka lewat jalur wisuda (membayangkan besok yaumul akhir ada sidang dan wisuda buat keluar dari neraka mampus lagi ga lu!) Saking banyak dan samanya semua ucapan yang kudapat, seingatku aku hanya membalas seperempat dari semua ucapan tersebut. Wajar saja kan sekarang mereka tidak lagi memberi ucapan? Xixixi.

Tapi kualitas dari ucapan-ucapan yang kudapat pada ulang tahun hari ini cukup sekali untuk mengguncang dunia silat lidah pegunungan bulaksumur (he). Semua ucapan tahun ini mendoakan kelancaran urusan perduniawianku, karena semua yang mengucapkan tahu bahwa aku akan mendaki sebuah jalan baru dan to be honest it might be not a smooth one but surely it'll be the fun and meaningful one. Dan jalan itu akan dimulai besok. Iya, besok. Dan karena itu baru akan dimulai besok, mari kita simpan cerita itu untuk besok. Hehehe.

Doa kedua adalah mereka semua mendoakan aku untuk berumur panjang. Sebelum aku melanjutkan, amit-amit banget ya, amit-amit banget pokoknya, aku sempat tidak terlalu suka dengan itu. Apakah mereka mendoakan aku untuk terus melihat kebobrokan dunia untuk waktu yang sangat panjang? Iya kalau hanya dunia yang bobrok, bagaimana kalau ke depannya aku ikut bobrok dan aku diberi umur yang panjang untuk menjadi salah satu kebobrokan dunia, Menurutku, aku sudah terlalu toxic dengan menjadi anak yang selalu durhaka, tetangga yang suka menyanyi jam tiga pagi, murid yang suka membolos dan tidak pernah mengerjakan tugas. Bisa bayangkan masa depanku? Ada kemungkinan aku tetap menjadi manusia toxic yang sudah update tapi rasa downgrade, seperti menjadi teman kantor yang malas kerja tapi nyinyir, tante yang mulutnya lemes pas lebaran (nah ini! menghindari banget ini!), dan sebagainya, yang ala-ala karen gitu. Singkat kata, setelah orang banyak mendoakaanku untuk berumur panjang, aku jadi sadar kalau berumur panjang saja tidak cukup, tapi harus memiliki umur yang berkah. Tapi di masa seperti ini, siapa yang tahu umur manusia? Umur panjang pun sekarang menjadi berkah! Maka aku mengamini semua doa teman-teman dan keluarga dengan serius, terutama yang kedua. 

Kembali ke cerita ibu dosenku, aku yang tadinya takut menjadi tua, sekarang jadi berharap aku bisa setua beliau nantinya. Tidak, aku akan jadi lebih tua dan aku harap semua orang tua sekarang, ibu dosenku, dosenku yang lain, ibuku, semuanya diberkahi umur panjang dan akan lebih tua tetapi sesehat sekarang, untuk melihat aku menjadi tua. Kalau pun nanti aku menjadi manusia toxic, bodo amat! Kalau pun bumi besok lebih bobrok dari sekarang, bodo amat! Aku akan hidup, karena hidup saja sudah berkah.

Mari kita semua, bukan hanya aku, berumur panjang, cukup panjang untuk keluar dari pandemi ini dan dapat bercerita kepada anak cucu tentang hari ini, mimpi kita yang berevolusi setelah pandemi, juga diri kita yang terus maju di tengah badai pandemi ini.

Happy Birdday to me.


(nggak typo, emang sengaja nulis birdday, biar diaminin sama buwung yeager)

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 3.17

Why so serious?

Why not serious?

Pernah kah aku tidak serius?

Pernah kah aku serius?

Pak, kalau saja saya tidak mau serius, saya tidak akan bermimpi untuk punya mimpi.

Sudah cukup kalian bunuhi mimpiku satu persatu, 

lahan perlahan.

Pak, saya tidak mau berubah

saya mau berkembang.

Pak, dengar tangis saya setiap malam,

"Ya Allah, kok hamba goblokmu ini enggak punya mimpi sih?"

Jadinya saya sekarang bermimpi, untuk mencari mimpi saya.

Pak, kepala saya baru selesai saya sambung lagi, setelah pecah gegara tes potensi akademik dan bahasa Inggris dua hari berturut turut.

Belum cukup serius katanya.

3.27




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Pernah suatu ketika adik-adik angkatan (yang karena kerewelanku kuliah, secara harfiah menjadi, teman seangkatanku) menemukan blog lama bapak dosen jaman beliau kuliah. Waktu itu aku ikut menertawakan dosenku atas blog yang beliau tulis sewaktu beliau masih mahasiswa. Entah darimana si bapak tahu bahwa kami tahu beliau menulis blog, akhirnya si bapak menghapus blognya.  Well, karma is a bitch. Mungkin, karena kualat menertawakan si bapak dosen, aku mendadak teringat dan rindu dengan blog yang aku tulis jaman SMP, yang sudah lama kuhapus. Entah apa isinya, kita semua akan sepakat bahwa apapun yang anak ingusan umur 12 tahun tulis di blognya tidak akan lebih baik dari tulisan seorang mahasiswa yang berjuang di perantauan.

Singkat cerita, sebenarnya waktu itu aku jadi bisa menemukan sisi lain dari dosen kesayanganku itu (sengaja ditulis miring), yang waktu itu terlihat punya sepasang tanduk di mata mahasiswa rewel sepertiku. Tetapi ketika aku membaca tulisan polosnya di blog, sosok bapak dosen dengan kemeja necisnya berganti dengan seorang mahasiswa dengan kaos seadanya (yang kemungkinan besar tetap terlihat bagus di badan bapak dosen sih). 

Oh. Ternyata si bapak dosen juga manusia? Ternyata si bapak dosen waktu lahir dan masih berupa bayi merah baru keluar dari rahim ibunya tidak berpakaian kemeja? Kalian tidak akan menganggapku gila kalau tahu betapa bagusnya semua kemeja yang ada di dunia ini ketika sudah menempel di badan si bapak. So, ternyata terkadang kita lupa bahwa guru atau dosen pernah menjadi murid dan mahasiswa seperti kita, dan ketika keluar dari kampus mereka menjadi warga masyarakat yang sama seperti kita dengan peran sosialnya masing-masing. Mereka pernah struggle dan sedang struggle di jalan mereka masing-masing.

Aku jadi membayangkan, kalau teman-teman (dan si bapak dosen kesayangan, sengaja ditulis miring) membaca blog lama yang kutulis di jaman aku masih menjadi penggemar garis keras the GazettE, apa ya yang akan mereka pikirkan tentang aku? Apakah aku terlihat seperti jurnalis yang lahir untuk menulis, karena sudah menulis blog sejak dini? Apakah aku terlihat seperti ahli IT karena sudah belajar bahasa HTML sejak umur 12 tahun untuk mempercantik tampilan blog? Atau mereka hanya melihat aku yang sama, yang tetap malas-malasan, hobi mengeluh tentang dunia, dan punya sindrom ratu drama, tapi versi umur 12 tahun? Mungkin kah aku tidak berubah dari 14 tahun yang lalu? Mungkin kah yang berubah hanya lah medianya? Apakah kontenku di sosial media sekarang sama toxicnya dengan tulisanku di blog 14 tahun yang lalu?

Aku tumbuh dengan penuh harapan bahwa aku akan berkembang. Tapi mungkin waktu itu doaku tidak lengkap, sehingga bukan jiwa dan akalku yang saat ini berkembang, tapi hanya ego dan juga badanku :). Ya, tulisan yang penuh dengan ego dan narsistik ini juga membuktikan aku masih gadis emo yang sama dengan 14 tahun yang lalu, yang tidak berkembang. Jadi, aku pun tahu aku berkembang atau tidak dari tulisan-tulisanku, termasuk tulisan ini. Tetapi kontradiksinya adalah, tulisan blog jaman SMP milikku sudah hilang. Jadi bagaimana caranya aku bisa membandingkan tulisanku yang dulu dengan sekarang untuk menilai apakah sekarang aku berkembang atau tidak? (Dengan hormat, jangan ada saran untuk mendengar pendapat orang lain untuk tahu aku berkembang atau tidak, karena jawabannya sudah jelas sih :))


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
1.05
Mari kita mulai bernostalgia untuk mengisi waktu luang (waktu luang mbahmu! terjemahan belum selesai!). 

Banyak sekali nostalgia yang lewat, semua mengantre masuk ke otak dan hati. Sabar mas! Sabar mbak! Satu-satu! Mulai dari siapa? 

Oh, kamu saja, kenangan yang paling konyol. Kenangan yang bahkan aku tidak tahu ia memang ada apa tidak. Kenangan saat aku ingin menjadi penulis. Aku bahkan sudah menyiapkan nama panggung, eh, salah, nama pena (kebanyakan nyanyi ketimbang nulis sih!). CJ. Ya. Itu. Pokoknya itu.
Mungkin ya, dia lahir karena waktu itu aku berteman dengan manusia senja (aewedbsddasfe) yang suka menulis. Gitu. Gawat juga ya. Kalau aku berteman dengan pengedar narkoba, aku mungkin... Tetep nganggur sih. Hehe. 

Aku dulu, DULU, suka temanku itu. Karena dia orang yang jujur, lewat tulisannya. Sedangkan aku anak yang kesulitan berkomunikasi. Satu kecap ide dibalas ribuan kritik tentang bajuku yang konyol, dandananku yang menor, lemakku yang menggelambir, dan lagi kemalasanku yang akut atau keshombonganku yan hqq. Mana berani aku bicara kepada yang Maha Korban!

1.15
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Suatu hari di dalam hutan ditemukan
Lubang yang berlanjut terus, entah kemana

Di depan kegelapan, teman disekitarku
hanya terdiam mengintip tanpa bergerak

Entah mengapa dada ini berdebar
Ku kan menjadi yang pertama berlari


==============================

Kelinci itu udah masuk ke lubang.
Tapi belum sampai di ujung.
Tapi tidak boleh pulang.
Bagaimana?

Dia harus selalu ingat, kalau dia
Kelinci Pertama
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

About me

About MeWelcome. Selamat datang di catatan harian si Kelinci

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • April 2023 (1)
  • Februari 2023 (1)
  • Juni 2022 (1)
  • Maret 2022 (1)
  • Agustus 2021 (2)
  • Juni 2021 (1)
  • Maret 2021 (1)
  • November 2019 (1)
  • Oktober 2019 (1)

Laporkan Penyalahgunaan

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates