Catatan Hari Kelahiran

by - Agustus 05, 2021

Hai, entry ini ditulis oleh aku yang sudah berumur 27 tahun, 28 kalau umur west japan. (baru tau istilah ini dari olimpiade 2020. lol) Kalau menurut milenial Endonesa nih, aku sudah kadaluarsa. Tapi kan aku manusia, bukan biskuit lebaran. Mohon maaf, sekedar mengingatkan. Hehehe. 

Tapi memang sih, bertambah umur itu suatu hal yang sensitif. Aku baru akan mengetik 'terutama untuk perempuan' tapi itu terlalu mysoginis tapi aku sepertinya terus mengamini kemysoginisan dunia, jadi ya tidak jadi aku ketik. Ehm. Masih ingat betul dua tahun lalu, seminggu setelah ulang tahunku yang ke-duapuluh lima, dosenku berulang tahun, entah yang keberapa, karena beliau tidak pernah spill umur, tahun lahir, atau sekedar shio, padahal orang Korea lumayan gandrung sama shio dibanding horoskop. Saat berpapasan di jalan dengan beliau aku meneriakkan "Saengil Chukkaeyo, Gyosu-nim" atau "Selamat Ulang Tahun, bu Dosen." Tidak ada yang salah, dalam bahasa Indonesia. Tapi dalam bahasa Korea, tingkat kesopanannya sedikit off. Kalau untuk orang yang lebih tua, 'ulang tahun' itu menggunakan 'saengshin' bukan 'saengil' dan ucapan yang benar adalah "Saengshin Chukkadeurimnida". Dalam hati, ibu Dosen pasti mengumpati aku. Ini anak sudah tingkat akhir, bahkan tingkat uzur, tapi memberi ucapan ke dosen "saengil chukkaeyo"? Hmm tidak salah Terjemahan tidak pernah lulus! 

Sedih sih tapi mari kita jangan gagal fokus.

Alasanku memberi ucapan "Saengil Chukkaeyo" alih-alih "Saengshin Chukkadeurimnida" adalah karena tahun itu adalah ulang tahunku yang keduapuluh lima dan aku merasa tua sekali. Jadi, ketika ada seorang perempuan berulang tahun, aku jadi tidak tega untuk mengingatkan bahwa dia cukup tua untuk diberi ucapan "Saengshin Chukkadeurimnida" because I know how it feels and it feels suck. (Tuh kan! Aku mengamini ucapan mysoginis bahwa umur itu sensitif untuk perempuan!)

Anyway, tahun ini, ada satu hal yang aku perhatikan di hari ulang tahunku. Ada pengurangan yang siginifikan dari jumlah orang yang memberiku ucapan, yang artinya, great! Semua sudah pasti kubalas, tidak seperti tahun lalu atau pada yang terjadi pada ucapan selamat atas keluarnya aku dari neraka lewat jalur wisuda (membayangkan besok yaumul akhir ada sidang dan wisuda buat keluar dari neraka mampus lagi ga lu!) Saking banyak dan samanya semua ucapan yang kudapat, seingatku aku hanya membalas seperempat dari semua ucapan tersebut. Wajar saja kan sekarang mereka tidak lagi memberi ucapan? Xixixi.

Tapi kualitas dari ucapan-ucapan yang kudapat pada ulang tahun hari ini cukup sekali untuk mengguncang dunia silat lidah pegunungan bulaksumur (he). Semua ucapan tahun ini mendoakan kelancaran urusan perduniawianku, karena semua yang mengucapkan tahu bahwa aku akan mendaki sebuah jalan baru dan to be honest it might be not a smooth one but surely it'll be the fun and meaningful one. Dan jalan itu akan dimulai besok. Iya, besok. Dan karena itu baru akan dimulai besok, mari kita simpan cerita itu untuk besok. Hehehe.

Doa kedua adalah mereka semua mendoakan aku untuk berumur panjang. Sebelum aku melanjutkan, amit-amit banget ya, amit-amit banget pokoknya, aku sempat tidak terlalu suka dengan itu. Apakah mereka mendoakan aku untuk terus melihat kebobrokan dunia untuk waktu yang sangat panjang? Iya kalau hanya dunia yang bobrok, bagaimana kalau ke depannya aku ikut bobrok dan aku diberi umur yang panjang untuk menjadi salah satu kebobrokan dunia, Menurutku, aku sudah terlalu toxic dengan menjadi anak yang selalu durhaka, tetangga yang suka menyanyi jam tiga pagi, murid yang suka membolos dan tidak pernah mengerjakan tugas. Bisa bayangkan masa depanku? Ada kemungkinan aku tetap menjadi manusia toxic yang sudah update tapi rasa downgrade, seperti menjadi teman kantor yang malas kerja tapi nyinyir, tante yang mulutnya lemes pas lebaran (nah ini! menghindari banget ini!), dan sebagainya, yang ala-ala karen gitu. Singkat kata, setelah orang banyak mendoakaanku untuk berumur panjang, aku jadi sadar kalau berumur panjang saja tidak cukup, tapi harus memiliki umur yang berkah. Tapi di masa seperti ini, siapa yang tahu umur manusia? Umur panjang pun sekarang menjadi berkah! Maka aku mengamini semua doa teman-teman dan keluarga dengan serius, terutama yang kedua. 

Kembali ke cerita ibu dosenku, aku yang tadinya takut menjadi tua, sekarang jadi berharap aku bisa setua beliau nantinya. Tidak, aku akan jadi lebih tua dan aku harap semua orang tua sekarang, ibu dosenku, dosenku yang lain, ibuku, semuanya diberkahi umur panjang dan akan lebih tua tetapi sesehat sekarang, untuk melihat aku menjadi tua. Kalau pun nanti aku menjadi manusia toxic, bodo amat! Kalau pun bumi besok lebih bobrok dari sekarang, bodo amat! Aku akan hidup, karena hidup saja sudah berkah.

Mari kita semua, bukan hanya aku, berumur panjang, cukup panjang untuk keluar dari pandemi ini dan dapat bercerita kepada anak cucu tentang hari ini, mimpi kita yang berevolusi setelah pandemi, juga diri kita yang terus maju di tengah badai pandemi ini.

Happy Birdday to me.


(nggak typo, emang sengaja nulis birdday, biar diaminin sama buwung yeager)

You May Also Like

0 komentar